Menumbuhkan Fitrah Keimanan dengan Mengajak Berpikir Konkret

memegang-api

Anak di bawah umur 12 tahun masih berpikir secara konkret. Begitu teorinya Jean Piaget, yang mengatakan bahwa ada empat periode perkembangan berpikir seseorang,

yaitu:

  1. Perkembangan berpikir sensorimotorik (0-2 tahun)

Dalam rentang usia ini, anak memahami lingkungannya melalui sensori (penginderaan) dan motorik (gerakan). Anak di usia ini suka menyentuh, mengambil dan memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya atau melempar benda.

  1. Perkembangan berpikir praoperasional (2-6 tahun)

Pada usia ini, anak telah menggunakan mental dalam berpikir, anak telah dapat mengombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi. Namun anak masih kesulitan melihat dari sudut pandang orang lain (egosentris). Anak masih berpendapat pesawat itu kecil karena yang dilihatnya adalah yang terbang di langit, atau hanya mengangguk saat menjawab telepon karena menganggap orang di seberang telepon dapat melihat gerakannya.

  1. Perkembangan Berpikir Konkret (7–12 tahun)

Pada tahap ini anak baru mampu berpikir dengan logika untuk persoalan-persoalan yang bersifat konkret atau nyata, hanya dapat membayangkan barang-barang yang nyata. Anak belum dapat melihat pluralitas gagasan tapi hanya satu per satu. Bila beberapa gagasan digabungkan pemikiran anak menjadi kacau. Misal kita katakan pada anak: saya punya 3 batang pensil yang berwarna hijau, kuning dan biru. Pensil hijau lebih panjang dari yang biru, tapi lebih pendek dari pensil kuning. Pensil mana yang paling panjang? Anak-anak akan bingung. Tapi jika digambarkan di papan atau buku, maka dengan mudah mereka menjawabnya.

  1. Perkembangan Berpikir Formal (di atas 12 tahun)

Di usia ini, anak mulai mampu berpikir logis dengan objek-objek abstrak.

 

Saat anak sulung saya berusia 5 tahun, saya pernah menjelaskan tentang perbedaan antara kaca dengan cermin. Hanya dengan lisan, jadi dia hanya membayangkan saja. Katanya dia tidak mengerti. Di lain kesempatan, saya menjelaskan hal yang sama tapi langsung menunjuk bendanya yaitu kaca dan cermin. Dia mulai sedikit paham namun masih tampak agak bingung. Beberapa bulan kemudian, saya menggambar di kertas objek kaca, cermin  dan beberapa benda-benda di sekitarnya sambil bertanya tentang perbedaan kaca dengan cermin. Saat itu, dengan lancar sulung mampu menjawabnya. Di situ saya berpikir, benar bahwa sulung masih berpikir pada benda yang nyata, berpikir menggunakan lebih dari satu alat indera.

Konsep ketuhanan bersifat abstrak. Anak-anak sudah sering mendengar tentang Allah, di rumah maupun di sekolah. Dari yang saya tangkap, mereka mengaitkan Allah dengan pahala dan dosa, surga dan neraka, penciptaan makhluk, pemberian rejeki, pengabulan doa serta penyembuhan. Kemudian saya menambahkan tentang konsep hubungan manusia dengan Allah untuk menguatkan fitrah keimanan dalam dirinya.

Guru kami, Sufimuda, menceritakan tentang hubungan manusia dengan Allah dengan cara ilmiah. Saya pun mencoba bercerita tentang itu kepada anak saya dengan cara ilmiah pada benda yang konkret mengingat usianya baru 6 tahun.

Pernah suatu saat, dengan semangat sulung bercerita tentang Boboiboy yang hebat dengan kuasa 7 nya. Saya bilang manusia ada juga yang bisa begitu tapi kekuatannya beda-beda. Lalu sulung bertanya apa itu betulan, bukan bohong-bohongan. Sulung tidak percaya karena saya pernah bilang hal-hal yang begitu di tv semuanya buatan, pura-pura, bohong-bohongan. Jadi dia tahu kekuatan pada Boboiboy itu hasil rekayasa. Lalu bercerita lah saya tentang para Nabi. Bahwa tiap Nabi punya kekuatan seperti Boboiboy tapi berbeda-beda. Kekuatan para Nabi disebut dengan mukjizat. Selain para Nabi, ada lagi yang punya kekuatan? Ada, orang-orang shalih, orang-orang yang dekat dengan Allah, disebut dengan karamah. Karena semua kekuatan itu sebenarnya milik Allah. Allah yang Maha Kuat. Allah memberikan kekuatan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Si sulung takjub. Untuk mencerna informasi itu, dia menggunakan indera penglihatan dan indera pendengaran. Sulung sudah pernah menonton film Boboiboy yang punya kekuatan, tentu dia bisa membayangkan kekuatan para Nabi yang saya ceritakan. Kita orang dewasa saja bisa takjub melihat film dengan visual efek yang wow padahal tahu itu cuma buatan. Apalagi anak-anak yang daya imajinasinya masih tinggi. Selanjutnya, tiap malam minta diceritakan tentang Nabi. Berulang-ulang, sampai-sampai yang bercerita bosan.

Kemudian sulung bertanya apa bisa dia punya kekuatan juga. Saya jawab bisa, syaratnya harus dekat dengan Allah. Untuk dekat dengan Allah harus kenali Allah. Untuk kenal Allah harus pelajari ilmunya. Untuk pelajari ilmunya harus berguru. Berguru kemana? Kepada orang yang telah mengenal Allah. Seorang Guru yang tidak hanya mengatakan Allah itu ada, tapi juga dapat mengantarkanmu ke hadirat-Nya. Tapi kalimat yang terakhir tidak saya sampaikan kepada sulung karena belum sampai ke situ pemahamannya. Kepada si sulung, saya hanya menyebutkan nama Guru saya, Sufimuda. Lalu sulung bertanya lagi kapan bisa belajar itu. Nanti kalau sudah besar, kalau sudah baligh.

Di saat yang lain, saat sulung asyik bermain dengan sebuah magnet kecil dan 2 buah logam tipis, dia bertanya kenapa logam kedua bisa lengket ke logam pertama padahal logam pertama bukan magnet. Saya menjawabnya secara ilmiah. Bahwa karena logam pertama menempel pada magnet yang sesungguhnya yang menyebabkan logam pertama dialiri oleh aliran-aliran magnet. Maka logam pertama memiliki sifat seperti magnet sehingga logam kedua dapat menempel pada logam pertama. Saat itu, sulung menggunakan lebih dari satu penginderaan. Dengan matanya dia melihat dengan nyata bahwa benar magnet – logam pertama – logam kedua saling menempel, dengan kulit tangannya dia menyentuh dan memegang benda-benda tersebut dan dengan telinganya dia mendengar jawaban saya. Sulung terlihat paham dengan penjelasan itu. Lalu saya melanjutkan penjelasan tersebut. Begitu juga hubungan kita dengan Allah. Diibaratkan, magnet adalah Allah, logam pertama adalah Guru, logam kedua adalah ummi. Kalau logam kedua dijauhkan dari logam pertama maka tidak menempel, kalau didekatkan baru menempel, makanya ummi berguru.

Pernah juga sekali waktu sulung menghampiri saya yang sedang menyetrika pakaian. Waktu itu, beberapa malam setelah Idul Fithri. Dia mendatangi saya bercerita bahwa dia baru saja memegang api lilin, rasanya panas tapi rasanya cepat hilang kok, sekarang sudah tidak apa-apa lagi. Itu karena pegangnya cuma sebentar, kata saya. Kalau pegang lama-lama, terbakar nanti. Coba pegang baju yang ummi setrika ini. Hangat katanya. Itu karena disetrika juga cuma sebentar, kalau lama-lama nanti hangus bajunya. Sama juga kejadiannya kalau ummi dzikir. Karena dzikir ummi cuma sebentar jadi setannya masih banyak, ummi pun masih sering marah (ketahuan masih sering marahi anak). Kemudian sulung bilang, berarti kalau ummi marah, setannya menang. Ummi dzikir lah banyak-banyak atau bilang sama Guru ummi supaya setannya pergi supaya ummi ga marah-marah lagi. Sulung telah menggabungkan cerita saya yang lalu dengan cerita yang sekarang. Saat itu sulung juga menggunakan lebih dari satu penginderaan yaitu mata, kulit dan telinga sehingga penjelasan saya dapat dipahaminya. Di momen itu, saya pribadi pun mendapat pelajaran. Semakin lama seseorang dekat pada Tuhan maka wajar jika orang tersebut kemudian hangus hilang dalam ketuhanan.

Dalam tulisan ini, Guru yang dimaksud adalah Guru yang mempunyai silsilah/sanad yang bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Kita membutuhkan Guru sebagai usaha kita untuk selalu beserta Allah. Karena tidak semua manusia tahu rahasia untuk berhubungan dengan Allah maka Allah memberi rumus, “Jika engkau belum bisa berhubungan dengan Allah maka adakanlah dirimu beserta dengan orang yang beserta dengan Allah, maka dialah yang mengantarkanmu kepada Allah” (hadits qudsi) [sufimuda.net].  Ditambah lagi, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa bimbingan Syekh (Guru Mursyid) maka wajib setan Gurunya” (Abu Yazid Al-Bisthami). Untuk dua bagian ini pun belum saatnya saya jelaskan pada sulung karena cara berpikirnya masih secara konkret.

Saya sangat bersyukur karena sudah menemukan seorang Guru Mursyid. Dan saya pun makin merasa yakin saat bercerita tentang ketuhanan kepada anak-anak.

sMoga tulisan ini dapat memberi manfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s