Sempurna

subuh

Di suatu pagi sesaat setelah selesai shalat shubuh, Allah Yang Maha Sempurna berkenan memberi pemahaman kepada saya bahwa manusia tidak lah sempurna maka tidak seharusnya manusia menuntut kesempurnaan terhadap manusia lainnya.

Allah tidak menuntut saya untuk sempurna sehingga dengan syarat itu saya baru mendapatkan karunia dan rejeki dari-Nya. Saya masih berkutat dengan usaha mengalahkan nafsu, menghindari dosa dan kesalahan, mengendalikan hati dan emosi serta melawan kemalasan berdzikir. Namun Allah dengan sifatnya yang Maha Pemurah tetap melimpahkan karunia dan rejeki–Nya kepada saya, terutama diberi-Nya kenikmatan ber-Tuhan.

Dari pemahaman itu, saya berpikir alangkah naifnya saya jika menuntut kesempurnaan dari anak saya agar sempurna dalam berperilaku. Beberapa hari lalu, saya membelikan sandal baru untuknya dan mendapat bonus mainan. Untuk sandal baru itu, dia mampu bersabar untuk mengenakannya di Hari Lebaran nanti. Tapi untuk mainannya, dia beberapa kali merengek agar bisa memainkannya di hari itu juga. Sebelum barang itu dibeli saya sudah mengatakan bahwa mainan itu untuk anak baik budi jadi baru boleh memainkannya jika dia sudah memenuhi syarat sebagai anak baik budi, yaitu jika dalam satu hari dia berlaku baik terutama terhadap adiknya, dia boleh memainkan mainan barunya di hari selanjutnya. Jadi saya hanya mengijinkan dia memegang kotaknya saja. Kotak itu pun dibawa kemana-mana (selama di dalam rumah).

Hari itu, anak saya berusaha untuk menjadi anak baik, tidak mengganggu atau menjaili adiknya. Saya dapat melihat usahanya itu. Dan jika nampak gelagatnya ingin mengganggu atau menjaili adiknya, saya mengingatkan bahwa jika dia tetap berperilaku baik hari ini maka besok dia boleh memainkan mainannya. Sampai lah di penghujung hari, malamnya dia mengejek adiknya yang membuat adik tidak nyaman dan menangis. Saya langsung mengatakan bahwa besok dia tidak boleh main mainannya karena sudah mengganggu adik. Walau dia keliatan sedih, saya tetap memegang aturan yang telah saya tentukan sebelumnya.

Keesokan harinya, setelah shalat shubuh, saya memutuskan untuk mengubah keputusan saya di malam sebelumnya. Setelah anak saya bangun dan akan mandi, saya meminta dia untuk duduk sebentar untuk membicarakan sesuatu. Saya katakan padanya bahwa kemarin dia telah berlaku baik tapi malamnya dia sempat mengganggu adik satu kali. Saya melihat usahanya dan Allah membuka pikiran saya untuk mempertimbangkan usahanya itu, lanjut saya. Jadi hari ini boleh main mainannya tapi nanti sore karena pagi pergi sekolah sedangkan siang harus tidur, kata saya. Dia tampak senang sekali.

“Ummi sudah ijinkan main mainannya, terus bilang apa?”

“Makasih Ummi”

“Bukan sama Ummi tapi sama Allah karena Allah yang kasih tahu Ummi” (mudah-mudahan tertanam dalam pikirannya bahwa yang baik-baik itu datangnya dari Allah).

“Makasih ya Allah”

“Makasih karena apa?”

“Makasih karena Fattan sudah baik budi” (Saya biarkan kalimatnya seperti itu karena saya tahu dia paham maksud saya. Tak perlu melakukan koreksi. Saya sedang menumbuhkan fitrah keimanannya).

Dengan sabarnya dia menunggu sore dengan baik budinya. Tiba saatnya sore, selesai mandi dia minta ijin untuk mulai main. Saya bilang iya. Dipanggilnya semua adik-adiknya untuk melihat mainan barunya. Dia senang sekali akhirnya diberi kesempatan untuk bermain dengan mainannya.

Terima kasih ya Allah, Engkau Maha Sempurna, Engkau telah mengingatkan saya melalui anak saya. Mohon bimbingan-Mu selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s